Tampilkan postingan dengan label Cerita penumpang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita penumpang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juli 2015

Groundstaff ku sayang Groundstaffku Malang

suasana pemadaman kebakaran di terminal 2E Soekarno Hatta


Denger cerita kebakaran terminal 2E tanggal 5 Juli kemarin?
kalau belum bisa baca disini http://metro.tempo.co/read/news/2015/07/06/064681343/kebakaran-bandara-soekarno-hatta-bermula-dari-oven

pasti tau jugakan gimana hebohnya pemberitaan di televisi soal penumpang yang ngamuk ngamuk dan soal lumpuhnya hampir semua penerbangan Garuda Indonesia dari pagi dan baru berangsur pulih bahkan sampai H + 1 alias keesokan harinya?

saya mengalaminya?
alhamdulillah Allah Maha Baik, kekacauan ini terjadi saya sedang menikmati panasnya sengatan matahari di Rijkmuseum Amsterdam, tapi bukan berarti path saya tidak ramai dengan cerita teman teman yang harus terbang di hari itu.
bagaimana cerita mereka harus standby didalam pesawat dari jam 7 pagi tanpa tau harus terbang kemana dan tidak tau ada cerita apa dibandara. mungkin banyak dari penumpang yang tidak peduli, toh buat mereka urusan yang ada hanya sebatas saya tidak mau tahu apa yang terjadi tapi saya mau terbang ke tujuan saya karena banyak hal. mereka lupa ada banyak pekerja yang juga ingin pekerjaannya segera selesai agar bisa berkumpul dengan keluarga mereka dan yang lebih penting semua orang tidak ingin ini terjadi.

salah satu yang jelas menjadi garda terdepan di bandara adalah petugas darat atau groundstaff yang bertugas memenuhi kebutuhan penumpang sebelum mereka naik ke atas pesawat dan bertemu dengan kami para pekerja udara. pekerja yang berada diposisi serba salah, percaya deh, kadang penumpang yang membawa kemarahannya ke pesawat merasa bahwa mereka tidak bisa menyelesaikan masalah mereka pada saat bertemu dengan groundstaff, alhasil mereka kena semprot diawal oleh penumpang dan kemudian tentu saja penumpang ini melanjutkan misi marah marahnya dipesawat.

penerbangan telat karena urusan dokumen atau karena mereka kehilangan penumpang yang entah dimana rimbanya, lagi lagi para pekerja darat ini yang menjadi sasaran kemarahan captain dan tentu saja penyelia awak kabin yang merasa bahwa mereka tidak bekerja dengan baik. Tidak hanya mereka, kadang sayapun *blushing* suka marah marah sama mereka karena urusan bagasi yang sama sekali tidak di sweeping, bagasi yang bertumpah ruah di cabin pesawat yang hanya mampu menampung sedikit dari barang bawaan mereka.

namun kejadian 5 juli kemarin membuat saya sedikit berpikir, membuat saya akhirnya membuka mata bahwa resiko pekerjaan ada dimana dimana, namun tolerasi sebesar apa yang mampu kita berikan dan empati macam apa yang bisa kita sampaikan..

seorang teman menulis di path, bagaimana ketika akhirnya mereka dapat melanjutkan proses boarding dan mengantar penumpang yang sudah marah marah karena keterlambatan berjam jam, diakhir boarding naik seorang petugas darat yang tergopoh gopoh dengan muka lelah dan baju acak acakan. ditangannya ada sebuah jam tangan yang sudah pecah kacanya. wajahnya tidak menyiratkan apapun, sampai ditanya dan mukanya berubah menjadi berkaca kaca. jam tangan rusak itu menjadi saksi bagaimana anarkisnya penumpang yang tidak mengerti apa yang terjadi.
dia pun bercerita bahwa keadaan diluar sungguh diluar kendali, bagaimana penumpang menarik narik setiap groundstaff yang melintas, menguasai HT yang menjadi satu satunya alat komunikasi mereka karena ruang server terbakar dan semua harus dilakukan secara manual, penumpang pun menghancukan komputer yang ada dan memperlambat semua proses. 

saya menyalahkan penumpang? Tidak, sama sekali tidak. tapi pantaskah apa yang mereka lakukan?

saya pun hanya membatin, dulu waktu ada kejadian di terminal saru dengan airlines tetangga saya merasa bahwa itu wajar saja, toh penumpangnya beda segmentasi dan saya merasa bahwa penumpang saya tidak akan seperti itu karena mereka berada dikelas segmentasi yang berbeda. saya merasa bahwa penumpang saya pasti akan lebih cerdas dan tidak akan menjadikan kemarahan, kekerasan sebagai sebuah solusi, saya dan semua rekan rekan yang bertugas hari itu menyadari bahwa mereka lelah, marah dan kecewa dengan kejadian ini, kejadian yang bahkan bukan sama sekali disebabkan oleh maspakai kami sendiri namun disebabkan oleh tata ruang dan penanganan area komersial di area bandara. namun saya lupa, manusia hanyalah manusia dengan sifat dasar yang sama tidak peduli seberapapun pendidikannya.

dan ketika saya mendarat dari Amsterdam satu hari setelahnya, saya melihat groundstaff yang masih berlarian kesana kemari demi mengejar flight agar segera berangkat dan pesawat lainnya dapat bersiap untuk mengangkut penumpang, wajah mereka terlihat lelah, mereka terlihat seperti sudah tidak mampu lagi menopang diri namun kewajiban atas nama pekerjaan membuat mereka bersemangat. 

ketika saya melintaspun sebagian dari mereka sudah duduk dengan muka kelelahan di selasar kedatangan, "belum pulang dari kemarin" begitu jawab mereka ketika saya tanya apa kabar. 

groundstaff yang perannya terlupakan, dianggap pegawai rendahan, sebenarnya adalah orang yang berjasa ketika hal ini terjadi. bagaimana mereka harus berjuang menghadapi penumpang sampai akhirnya merekapun harus dievakuasi agar tidak menjadi sasaran amarah penumpang.

sayapun menyadarinya bahwa kadang kami sombong bahwa tidak akan berjalan pesawat tanpa ada awak kabin yang berusaha keras, tanpa ada awak pesawat yang mau menerbangkan pesawat. disana kami lupa bahwa ada sosok groundstaff yang mengatur ini semua dan memastikan semua berjalan dengan lancar. kerja keras mereka membawa kami lebih dekat dengan rumah, kemampuan mereka mempecepat proses boarding menjadi kesenangan kami karena kami akan lebih cepat bertemu dengan orang yang kami cintai.

setiap pekerjaan punya resiko masing masing, setiap pekerjaan punya kendala masing masing dan setiap orang punya ego nya masing masing..

semoga hal ini tidak akan terjadi lagi, semoga kedepannya kami dapat lebih bersinergi dengan pekerjaan kalian..

dan teruntuk para pekerja darat dibandara manapun kalian berada, kalian hebat, kalian kuat dan saya yakin kalian mampu membantu kami membawa penerbangan indonesia semakin tinggi dan semakin dikenal dunia


XoXo

RienjaniRina



Kamis, 29 Januari 2015

a simply tought

`TOLONG, SAYA KEKURANGAN SELIMUT

Sekarang jam 12 malem dan saya lagi duduk termenung di beranda kamar hotel, bukan karena saya lagi nyari kerjaan sampingan jadi cewek panggilan terus sekarang lagi duduk di kursi hotel sambil curhat soal servis si om lho. Ini karena emang aja kerjaan saya yang ngeharusin saya pindah pindah kota dan menikmati indahnya kota, sumpah ini boong banget. Kerjaan saya cuma ngijinin saya tinggal satu malem di hotel dan besoknya terbang lagi. Ya walau kadang kadang bisa sampe bermalem malem saya tidur di hotel yang sama karena jadwal terbang yang berhari hari mengharuskan saya kembali lagi ke hotel yang sama.
Kerjaan saya apaan sih?
Kerjaan saya jadi pramugari, yoyoy tau dong itu pramugari yang tiap hari nangkring di pesawat, senyam senyum sambil bilang “bapak ibu matikan handphonenya” terus bagiin permen kalo terbang domestik atau kalo lagi gaya dikit jadi pramugari internasional saya bakalan bagiin penumpang tercinta saya jus jeruk sama apel yang di kemas pake tempat kecil kecil. Bukannya pelit lho, tapi biar cepet, kalo saya kasihnya satu gelas gede kapan kelarnya? Kapan saya take off nya? Terus kapan saya bakalan balik  ke kamar hotel yang nyaman, atau kapan saya bakalan kembali ke dunia nyata, kembali realita ke kamar seukuran 3 kali empat meter yang sekarang udah pake ac gara gara kebiasaan ngejogrok di kamar hotel sama temen sekamar yang tidurnya kaya pinguin. 
Enak ya kerjaan saya, keliling keliling mulu., jalan jalan mulu, pindah pindah kota mulu, pindah pindah negara mulu.
Pale lo enak, yang ada tiap hari saya meriang gara gara ganti cuaca mulu. Dari panas ke dingin, dari suhu empat puluh derajat di dubai sana langsung pindah ke minus 12 di korea sana. Yang ada tiap kali nginep di hotel saya sibuk masang koyo kaya nenek di kampung yang kena reumatik. Abis kalo telat dikit bakalan berakhir dengan adengan saya lari terbirit birit ke kamar mandi gegara panggilan alam yang ga bisa berenti dan keluarnya kaya orang yang susah bayar cicilan. Alias se encrit se encit. Iuuuh jorooook…
Eh tapi itu resiko bukan? Namanya juga jadwal terbang padet ngelebihin artis artis ibukota papan atas. Eh balik lagi ke alesan kenapa saya duduk di beranda hotel ini, bukan juga karena saya mikir gimana caranya loncat dari lantai dua puluh lima lho ya. Saya cuma lagi ngerasain duduk di beranda pake hotpants sama tanktop di tengah dinginnya malam yang makin menggigit. Lagi eksperimen soal penerbangan saya hari ini.
Ini lebih ke perenungan saya soal penumpang yang ada di pesawat saya hari ini yang bakalan ngegiring saya ke tempat yang saya sebut sebagai kandang macan alias ruangan chief awak kabin. Sebenernya enak sih chief saya, cuma kalo kudu dateng gegara komplain yang menurut saya ga penting itu yang suka bikin saya berasa ada di kandang macan. Ceceran pertanyaan bakalan bikin saya berasa serba salah walaupun sebenernya apa yang saya lakuin itu bener.
Hari ini ada penumpang saya yang ngotot banget minta selimut selama penerbangan tanpa mau tau berapa banyak selimut yang saya punya di flight itu. Bukannya saya pelit dengan ga mau kasih selimut ke penumpang itu, cuma mbok ya dikira kira. Berapa perbandingan selimut yang saya punya selama penerbangan itu. Jumlahnya cuma sepuluh persen dari jumlah kursi yang ada di penumpang buat penerbangan dibawah empat jam.
Jadi gini ceritanya, selama flight ke singapura dari denpasar saya bawalah satu keluarga yang naik dengan celana pendek dan tanktop dari ibu sampe keempat anaknya. Mereka minta selimut empat buah sementara selimut saya saat itu cuma lima belas helai. Di flight itu ada tujuh anak bayi, dua penumpang tua dengan kursi roda jadi totalnya saya udah mesti nyisihin sembilan selimut untuk orang orang itu. Oh ya, di pesawat sendiri kebutuhan selimut itu di utamakan untuk orang tua, orang sakit dan ibu dengan bayi atau anak kecil. Bukan untuk orang yang sok sokan pengen kece naik pesawat pake hotpants sama tanktop yah. Saat itu saya bilang selimutnya saya kasih dua dulu nanti kalo setelah lepas landas ga ada lagi yang minta baru deh saya kasih sisanya dua lagi. Ga adil dong dengan jumlah lima belas selimut yang udah saya kurangin sembilan dan tinggal sisa enam helai kudu saya kasih empat ke mereka sedangkan yang lain sama sekali ga kebagian. Yang ada saya bakalan di kutuk sama massa gara gara disangka ga mau ngasih mereka selimut sementara mereka lihat saya nyodorin empat selimut ke orang dalam satu baris. Ternyata keputusan saya tuh berujung surat komplen, ya masih katanya sih dia bakalan ngasih surat komplen itu ke orang airlines saya di singapura. Takut? Nggak sih, secara saya udah ngejalanin semuanya sesuai prosedur.
Nah situ aja yang keganjenan naik pesawat pake hotpants sama tanktop padahal udah tau kalo pesawat itu dinginnya nauzubillah, ya cuma pesawat dengan tipe tertentu aja ko yang panas, sisanya sedingin kulkas atau sedingin ruangan disaat hujan deras yang berlangsung seharian. Katanya biasa naik pesawat, ga mau dibilang kamseupay tapi ko ya ga ngerti ngerti.
Kalo mau pake hotpants sama tanktop mbok ya bawa aja selimut sendiri dari rumah, jangan malah jadi marah di pesawat cuma gara gara ga dikasih selimut kan? Apalagi sampe ga mau tau kebutuhan selimut itu buat siapa.
Andai saat itu saya ga pake seragam ya, pengen deh damprat orang macem kaya gitu yang mulutnya nyerocos ga jelas bukan buat kesalahan  saya kan sebenernya itu?
Cuma atas nama profesionalisme sama nama baik airlines saya cuma bisa nyengir lebar sambil ngasih mereka  surat komplen yang ada di dalam majalah di dalam pesawat abis itu saya lari kebelakang sambil ikutan ngoceh ngoceh, biarpun saya selalu ditugasin buat senyum tapi kadang ga tahan juga sih, kalo udah ga tahan mendingan saya lari ke pantry belakang atau masuk ke toilet buat nenangin diri daripada masalahnya semakin membesar bukan? Terus balik lagi ke kabin pesawat dalam keadaan mood yang sudah baik dan siap senyum lagi.
Enak kali ya kalo saya punya tongkat sihir yang bisa kegandain jumlah selimut di pesawat, apa saya butuh pergi ke gunung kawi buat minta pesugihan sama ilmu menggandakan barang? Kalo orang kan kesana biar kaya, kalo saya biar penumpang saya senyum semua deh dapet selimut.
Saya sendiri kalo jadi penumpang lebih suka dipeluk pacar selama penerbangan daripada pake selimut, hangatnya sama kan? Mesranya lebih dapet, paling orang yang duduk di sekitar lo jadi sebel terus ngeluarin energi panas karena mereka sibuk sirik selama penerbangan :D tapi yang penting sebelahnya jadi ikutan ga butuh selimutkan?
Atau mungkin, saya kudu pindah bagian kerja di staff check in kali yah yang saya lakuin ngedata seberapa banyak penumpang yang pake pakaian mini supaya jumlah selimut yang naik bisa sejumlah sama orang yang naik dengan pakaian minim, biar bebas komplen.
Komplen ga ada hatipun senang. Ga ada komplen berarti bisa datang ke ruangan chief dengan file baik, bisa dapet bonus banyak *nah yang terakhir hanya harapan*
Widiiih, sekarang saya udah menggigil ga keruan, kudu buruan masuk ke dalam selimut hotel saya yang nyamannya nauzubillah.
Dear pax, please be nice to me tomorrow yah..if you think you’re not gonna be nice, please batalin flight lo yang bakalan bareng sama saya.


Sincerely,
Pramugari yang frustasi nunggu panggilan dari ruang chief.













Sabtu, 08 November 2014

Pramugarinya kuat sekali *_*

ini kalimat yang paling sering saya denger dari penumpang yang saya bantu ngangkat kopernya berdua dengan mereka.
kesel? nggak juga sih.
cuma kadang saya kesel kalau diminta tolong ngangkatin barang yang bukan barang saya SENDIRIAN.
padahal yaaaa...kalau di airlines lain, angkatlah sendiri barang anda kecuali anda ibu dengan anak ataupun manula. sayang peraturan kaya gitu belum bisa diterapin di indonesia yang notabene orang nya berasa hebat dan kalau bisa naik pesawat full service.
kemarin juga kejadian lagi, mbak mbak yang paling seumur saya lah terkagum kagum sama kami karena kami mau BANTUIN ngangkat kopernya yang gede dan alhamdulillah BERAT
sambil cekikian dia bilang "waduh mbaknya kuat" saya cuma bisa senyum, pengennya sih jawab "itu karena saya fitness di Gold Gyms bu plus sering nge gym kalau lagi nginep dimana" hahaha but trust me, kalimat terakhir cuma saya simpan di dalam hari dan digantikan sama senyum manis menyayat hati.
sebenernya ngangkat barang berat itu ada tekniknya ko, ga akan jadi berat dan ga nyakitin badan kalau cara ngangkat barangnya benar..

here i told you the secret :
1. cari posisi yang pas, tekukkan kaki dan bikin tumpuan di kaki bagian bawah, jangan ditulang belakang. kalau di tulang belakang, alhasil cidera..
2. kalau barang yang dimaksud koper, taruh satu tangan di handle atas koper dan satu lagi dibagian bawah koper. begitu kaki mulai mendorong badan ke atas, koper pasti langsung masuk dengan mulus ke dalam kompartmen jadi bye bye cidera.

dua langkah mudah dan gampang, tapi bukan berarti jadi lampu hijau buat bawa barang berat lhooo ke pesawat.

enjoy the flight :)

Rabu, 10 September 2014

Sayangi Nyawamu kalau memang ga sayang nyawa orang lain :)

MATIKAN HP DI DALAM PESAWAT!!
–Rakyat High-Class, Tapi …..
Saya sedih mendengar terbakarnya pesawat Garuda, GA 200 pada tanggal 7 Maret 2007, pukul 07.00 pagi, jurusan Jakarta-Yogyaka rta di Bandara Adisucipto. Kejadian itu sungguh menyayat hati dan perasaan.
Kemudian saya teringat beberapa bulan yang lalu terbang ke Batam dengan menggunakan pesawat Garuda juga. Di dalam pesawat duduk disamping saya seorang warga Jerman. Pada saat itu dia merasa sangat gusar dan terlihat marah, karena tiba-tiba mendengar suara handphone tanda sms masuk dari salah satu penumpang, dimana pada saat itu pesawat dalam posisi mau mendarat. Orang ini terlihat ingin menegur tetapi tidak berdaya karena bukan merupakan tugasnya.
Langsung saya tanya kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu, kemudian dia bercerita bahwa dia adalah manager salah satu perusahaan industri, dimana dia adalah supervisor khusus mesin turbin. Saat dia melaksanakan tugasnya tiba-tiba mesin turbin mati, setelah diselidiki ternyata ada salah satu petugas sedang menggunaka HP didalam ruangan mesin turbin.
Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi HP dengan mesin turbin ini kebetulan sama dan sinergi ini akan berakibat mengganggu jalannya turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.
Cerita ini langsung saya kaitkan dengan peristiwa diatas, kalau saya tidak salah mendengar mesin pesawat tiba-tiba mati pada saat mau mendarat. Mudah- mudan peristiwa ini bukan akibat HP penumpang. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk masyarakat yang sering bepergian dengan pesawat.(KOMPAS )
Rakyat kita ini memang High class.. Handphone nya Mahal, Transportasi pake pesawat. Tapi bodohnya gak ketulungan. Ada yang gak tau kenapa larangan itu dibuat, ada yang tau tapi tetap gk peduli.. Orang indonesia harus selalu belajar dengan cara yang keras.
Buat yang belum tahu, kenapa gak boleh menyalakan Handphone di pesawat, berikut penjelasannya:
Sekedar untuk informasi saja, mungkin rekan-rekan semua sudah mendengar berita mengenai kecelakaan pesawat yang baru “take-off” dari Lanud Polonia -Medan. Sampai saat ini penyebab kejadian tersebut belum diketahui dengan pasti.
Mungkin sekedar sharing saja buat kita semua yang memiliki dan menggunakan ponsel/telpon genggam atau apapun istilahnya.. Ternyata menurut sumber informasi yang didapat dari ASRS (Aviation Safety Reporting System) bahwa ponsel mempunyai kontributor yang besar terhadap keselamatan penerbangan. Sudah banyak kasus kecelakaan pesawat terbang yang terjadi akibatkan oleh ponsel. Mungkin informasi dibawah ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terlebih yang sering menggunakan pesawat terbang.
Contoh kasusnya antara lain:
Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja “take-off” dari bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat.
Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang terus meraung-raung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor dibagasi lupa dimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi.
Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi 700 kaki justru ketika sedang “final approach” untuk “landing” di bandara Heathrow, London. Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing-masing (The Australian, 23-9-1998).
Seperti kita tahu di Indonesia? Begitu roda-roda pesawat menjejak landasan, langsung saja terdengar bunyi beberapa ponsel yang baru saja diaktifkan.
Para “pelanggar hukum” itu seolah-olah tak mengerti, bahwa perbuatan mereka dapat mencelakai penumpang lain, disamping merupakan gangguan (nuisance) terhadap kenyamanan orang lain.
Dapat dimaklumi, mereka pada umumnya memang belum memahami tatakrama menggunakan ponsel, disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan kemudi pesawat terbang. Untuk itulah ponsel harus dimatikan, tidak hanya di-switch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat.
Berikut merupakan bentuk ganguan-ganggua n yang terjadi di pesawat: Arah terbang melenceng, Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu, Gangguan penyebab VOR (VHF Omnidirectional Receiver) tak terdengar, Gangguan sistem navigasi, Gangguan frekuensi komunikasi, Gangguan indikator bahan bakar,Gangguan sistem kemudi otomatis, Semua gangguan diatas diakibatkan oleh ponsel, sedangkan gangguan lainnya seperti Gangguan arah kompas komputer diakibatkan oleh CD & game Gangguan indikator CDI (Course Deviation Indicator) diakibatkan oleh gameboy. Semua informasi diatas adalah bersumber dari ASRS.
Dengan melihat daftar gangguan diatas kita bisa melihat bahwa bukan saja ketika pesawat sedang terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di landasan pun terjadi gangguan yang cukup besar akibat penggunaan ponsel.
Kebisingan pada headset para penerbang dan terputus-putusn ya suara mengakibatkan penerbang tak dapat menerima instruksi dari menara pengawas dengan baik.
Untuk diketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak di atas Jakarta).(Varis / pertamina)
Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak tahu tata krama?
Sekiranya bila kita naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang.
Semoga suatu hari rakyat kita bisa sedikit lebih pintar.
Wassalam
*taken from https://kesukaannyamaya.wordpress.com/2013/04/15/ *
sebenernya ini sedikit banyak bagian dari kekesalan tiap terbang, hampir tiap hari dan bener bener bikin gondok..
kenapa?
ga bisa maraaah, kepentok sama seragam, kepentok sama regulasi dan segala macam.. padahal harusnya seragam menguatkan, harusnya seragam jadi tonggak buat benerin peraturan yang ada dan memberikan kuasa buat negor yang ga sesuai.. tapi apa daya, saya hidup di indonesia..negara yang doyan ngelibas semua aturan..
padahal orang Indonesia itu kaya, lumayan berpendidikan dan mampu beli barang mahal cuma kenapa sih mereka ga pernah bisa bayar guru buat ngajarin mereka baca, biar mereka tau aturan yang ada karena gimanapun juga mereka membahayakan orang lain, kalau pesawat yang nerbangin keluarganya, pramugarinya keluarganya dan seluruh penumpang juga keluarganya, i dont give a shit lah yaa... terserah dia mau ngapain dan berbuat apa, toh kalau pesawatnya jatuh yang habis kan garis keturunan keluarganya, bukan orang lain.
tapi masalahnya mereka naik pesawat komersial, dimana isi dari pesawat itu ada seorang suami / istri / tulang punggung / menantu / anak / ayah / ibu dari orang diluar pesawat yang mengharapkan mereka kembali dalam keadaan utuh dan bernyawa..
biarpun sekarang belum bisa dibuktiin kalau pesawat beneran jadi penyebab jatuhnya sebuah pesawat, tapi saya ga mau ada diposisi orang yang ngalamin trial dan error nya...iya kalo pas trial kebagian pas selamatnya, kalau pas bagian apesnya?
pesan dari saya :
saya tau kalian punya HP, saya juga punya dan belum tentu HP kalian lebih bagus dari punya saya..
tapi saya tahu bahwa saya tidak mau mengorbankan nyawa saya dan menaruhnya di meja judi pertaruhan hidup dan mati cuma untuk kekonyolan kalian yang ga mau matikan handphone di dalam pesawat cuma dengan alasan kalau take off sinyal hilang sendiri.. kalau kalian mau mempertaruhkan nyawa, coba aja uji nyali dijembatan atau jalan ditengah jalan tol, jangan di pesawat yang isinya banyak orang yang menanti mereka diluar sana.
kalau kalian ga pernah dicintai , jangan bawa orang lain disana.. ada suami dan keluarga saya tercinta yang menanti kepulangan saya di setiap akhir skejul dalam keadaan hidup, bernapas dan sehat wal afiat..
XoXo
Nana

Senin, 24 Februari 2014

A Sad Flight

sudah dua bulan ini saya jadi pramugari yang khusus terbang ke jeddah, Saudia Arabia karena uplifting rating ke pesawat terbaru Garuda Indonesia yaitu Boeing 777.
sebenernya seneng, akhirnya penerbangan sembilan jam lebih punya hiburan sendiri. penumpangpun jadi ga mati gaya.
saya menikmati setiap hari terbang yang dijalanin.
sampai di penerbangan tanggal 20 februari kemarin, penerbangan GA 981 dari Jeddah menuju ke Jakarta.
awal boarding saya yang posisinya di pantry pintu 4R, membawa seorang ibu yang berjalan susah payah sampai ke kursinya. ibu itu belum tua, usianya baru di pertengahan 50 tahun. guratan cantik masih tampak jelas di wajahnya, rasa letih juga tampak tidak bisa di sembunyikan lagi. ya, umroh memang memakan banyak energi, menguras tenaga dan mengasah kesabaran kita sebagai orang yang menjalankannya.
seorang pria gagah yang membopong si ibu pun terus menyemangatinya agar bisa sampai di kursinya yang terletak di bagian belakang pesawat, perjalannya cukup jauh mengingat kursi pertama bernomor dua puluhan sementara si ibu dan pria gagah yang diakhirnya saya tahu bahwa itu adalah menantunya duduk di nomor lima puluh.
"ayo mbah, yang semangat..sedikit lagi sampai" suara itu jelas ada di telinga saya dan saya yang ada di belakangnya ikut berkomentar menyemangati..
kejadian tidak selesai disana, ketika kami menyadari pada saat penyajian makan malam, si ibu sudah tidak sadarkan diri dan suaminya berusaha menyadarkan dengan meminumkan teh manis yang tidak bisa lagi di telan si ibu.
semua orang jelas menjadi panik, tidak terkecuali rekan saya yang bekerja di area tersebut.
setelah di rebahkan, supervisor kabin kami memanggil dokter, alhamdulillah ada seorang dokter disana, namun tetap saja tidak banyak yang bisa dilakukan karena minimnya sarana dan prasarana.
dokter hanya menganjurkan memakaikan oksigen kepada si ibu, siapa tau nanti sadar dengan sendirinya.
selesai penyajian makanan, kami bergantian menjaga si ibu, memastikan oksigennya masih berjalan dan dalam batas tekanan yang masih diperbolehkan, jika sudah minim, kami menggantinya dengan oksigen yang baru.
surat yasin, doa doa, lafatz islami kami berikan kepada si ibu, berharap bahwa beliau akan sadar, sedih rasanya melihat si ibu dalam kondisi tidak sadarkan diri masih menangis begitu kami membacakan ayat ayat suci di telinganya. kami juga terpaksa meminta keluarganya beristirahat bergantian, karena kami tidak ingin mereka juga ikut sakit. menunggu orang yang sakit membuat saya merasa dekat dengan ibu tersebut. rasanya seperti menunggui orang tua sendiri. semua cerita tentang si ibu mengalir dari mulut anak menantu dan adiknya yang ikut serta dalam penerbangan ibu.
si ibu terlihat berusaha bertahan, mungkin karena memang tidak ingin menyusahkan semua orang. tidak ingin membuat semua orang tertunda sampai ke rumah, karena begitu landing di Jakarta akhirnya si Ibu sudah tiada.
bukan hanya keluarganya yang menangis, saya dan seluruh awak kabin yang bekerja di kelas ekonomi pun ikut menangis, rasanya kami dekat dengan mereka, rasanya mereka jadi bagian hidup kami hari itu dan rasanya kami sudah mengenal si ibu sekian lama.
4 jam lebih saya dan seorang rekan menjadi perawat si ibu, kami shift ke tiga yang menjaga beliau, melihat perubahan fisik beliau adn ada di saat saat terakhirnya. merasakan kakinya yang berubah dingin, napasnya yang semakin berat.
this is my very first time of feeling something like this, to see people died right infront of my eyes..

May Allah put her in His Heaven...amiiien...

Kamis, 19 Desember 2013

sh*t does happen in a nice flight

bisa bayangin terbang domestik yang dihajar pagi tiap hari? apa yang bisa bikin kalian kuat ngelakuinnya selain dapet crew yang menyenangkan...yuph, i dont lie about that...
tumben tumbenan dapet 1 set crew yang bener bener bikin girang...
captain nya okee banget, first officernya kece kece, pursernya ga rewel, juniornya capcus semua.. why should i asked for more?
tapi kaya kata pepatah, ga ada yang sempurna di dunia ini.. semua pasti punya cela...
yaph, si cela pun datang di hari terakhir, di landing terakhir..
semuanya tampak baik baik aja, penumpang penuh, semua gembira semua senang..siapa yang bisa ngilangin rasa senang mau pulang ke rumah?
no one right?
sampe tiba saatnya boarding and shit does happen this time...
belum security check *yaph before boarding time you need to ensure if everything clear and no suspect items or unattended items on the plane* tiba tiba penumpang datang...tiba tiba captain marah gara gara belum saatnya boarding dan beliau dapet penjelasan yang paling nggak masuk akal...kita di buru waktu?
hah?
gimana cerita?
ini pesawat udah telat datang dan semua sekarang ditumpahin ke aircrewnya?
alasannya klasik, biar mereka ga dikejar kejar penumpang dan biarkanlah penumpangnya marah sama crewnya...
damn you ground staffs..
abis itu yang parah adalah semua penumpang di suruh turun, can you imagine that?
semua orang udah siap berangkat dan dipaksa turun lagi karena emang kita belum security check...
kebayang mukanya semua orang?
and im all alone on the rear galley...hold the passenger so they cannot board the aircraft...
as a flight attendant all i need is think fast and create some silly 'real' reason instead of saying the real 'truth' reason..so no one gonna complaint you right?
tapi yang namanya bad luck ga akan pernah berenti disana aja...
dan sebuah krisis dalam penerbangan akan menunjukkan sifat asli diri kita...
tau apa yang terjadi berikutnya?
one of my chinesse mainland passenger got sick...
with no english at all....
tour guidenya pun bahasa inggrisnya terbatas...
kondisinya udah ga mungkin untuk terbang, too low sugar blood pressure gitu kata dokter bandara...
ga boleh terbang!!! itu final decisionnya...
tapi dia sama sekali ga bikin semuanya jadi mudah, he refuse to get off from the plane...
semua penumpang mulai ricuh, semua penumpang mulai KEPO *u know lah orang indo kalo liat kaya ginian*
satu bule teriak " I pay such an expensive tickets for flight on time not for a humanity"
satu orang indo yang kepo mulai nanya nanya ada apaan...
ibu ibu yang lain sibuk nelpon keluarganya bilang kalo mesin pesawat rusak *ini dia dapet info darimana coba*
and the worst part adalah my purser dont want to come and see whats going on....
kerja bertahun tahun ternyata ga akan bikin orang berani juga ngadepin masalah...
sisanya siapa?cuma saya dan 3 orang junior yang sibuk keliling cabin...
saya sibuk nyuruh tour leader ngeyakinin si bapak yang sakit ini turun.
satu junior saya sibuk komunikasi dengan captain
dan dua junior saya sibuk nyuruh semua orang matiin handphone dan ga usah ngambil foto...
this is such a tragedy not a party...

thanks god di flight ini saya ditemani 3 junior super yang mau kerja keras dan mau ngadepin penumpang...

dan seperti kata pepatah, pasti ada pelangi setelah hujan deras...

setelah waktu debat panjang dan flight yang melelahkan kami berempat plus captain dapat compliment dari miss Suhaila Nordin one of the kind passenger that help me to argue with the tour leader...

gini isinya :
 tToday's flight experienced a very difficult passenger situation that showed an impressive, patient and well trained economy class (Y) cabin crew team, also acknowledging the captain that took matters into control by coming out to address the passenger. god job to team, stay veal and tune !!!!

inti dari cerita ini sih sebenernya sebagai seorang pramugari kita harus siap siaga dan mampu ngatasin masalah apapun...mungkin ga cuma kerjaan pramugari kali ya, tapi kerjaan apapun...
dan harus bisa mikir cepet, kerjaan di udara macam ini semua perhitungan pakainya detik..
how we think, how we react will show the different result...
dan gimana caranya semua orang yang marah akhirnya ngasih compliment ke kita...
paling nggak nunjukin kalo dalam keadaan tertekan sekalipun kita bisa bersikap profesional dan mencari jalan keluar...

good luck for you who wanna be a flight attendant....
paling nggak ini bisa jadi gambaran gimana pola kerja seorang pramugari :)

Sabtu, 30 November 2013

nunggu gatot kaca lewat

Kebayang gak rasanya harus terbang dengan pelayanan penuh dan ngadepin banyak macem orang?
Biasanya sih saya sabar kalau ngadepin penumpang tapi bukan berarti sabar ga ada batasnya..
Bikin penumpangnya marah itu perkara mudah,tapi ngerubah kemarahan jadi sebuah pujian itu yang luar biasa susahnya

Dan akhirnya setelah hampir lima tahun terbang saya ngerasain juga :D
Ngerasain dimarah marahin penumpang tapi ujung ujungnya dia ngikutin saya dan ngasih compliment :D

Kisah ini terjadi di flight cgk - kno alias jakarta medan..buat semua pramugari full service pasti udah tau gimana tabiatnya orang medan *no sara*
Gimana mereka selalu pengen diduluin dan ga mau sabaran..

Me : maaf bapak,pilihan makannya sudah habis yang ada tinggal pasta daging..
Pax : gjmana sih kamu,saya ga makan daging..harusnya kamu tawarin saya dulu..
Me : wah,maaf pak,saya ga tau kalau bapak gak makan daging..tapi tinggal ini yang kami punya..
Pax : ambilkan saya dari bisnis class aja *yeee ngarep*
Me : ga bisa pak di depan penuh
Pax : saya ga mau tau,saya mau makan tapi ga mau daging
*semua penumpang kepo mulai melirik2 dan pengen tau ada apa*
Me : baik pak

Tau apa yang saya lakuin?
Bukannya ke depan atau ninggalin si bapak..tapi saya memposisikan diri setengah jongkok dan nengok kanan kiri kaya ada yang di cari..

Pax : ngapain kamu jongkok2,bukannya cariin makann buat saya..
Me : iya pak,ini saya lagi nugguin gatot kaca lewat..siapa tau bisa nitip beli gado gado atau kfc buat bapak...

And you know what?
Tanpa disangka tanpa di duga so bapak malah ketawa ngakak well sebelahnya jg sih sampe nyemburin juice..

Tapi gaya ini jangan di coba lho,entah apa yang saya pikirin waktu itu..mungkin rasa cape terbang 4 landing memhuat saya jadi kreatif kali ya..but its work...
Si bapak malah ketawa dan akhirnya ngalah cuma makan dessertnya aja..
Begitu turun si bapak malah ngasih compliment bilang kalau saya melakukan pekerjaan dengan baik dan profesional..ahhh...terima kasih bapak...
Ini yang membuat saya selalu cinta terbang,ada banyak kejutan yang menyenangkan..


Sabtu, 09 November 2013

ME vs Pax *Entah chapter keberapa*

Kadang saya suka bingung deh sama penumpang pesawat, pernah ga sih mereka agak sedikit "mikir" kalau pesawat delay sampai lama, holding sampai lama yang rugi itu bukan cuma mereka, tapi juga saya sebagai seorang pramugari..
biarpun bayaran saya jadi lebih gede gara gara holding lama dan argo saya tetap jalan *ya elah na, bahasa lo kaya supir taksi* tapi keinginan saya buat cepetan pulang, lepas seragam dan nonton Star World itu jauh lebih besar daripada mempebesar saldo tabungan saya sendiri.

Andai saya ga ga pake seragam, rasanya saya pengen banget ngomong sama mereka "yang pengen istirahat ga cuma elo woy, yang pengen ngerasain enaknya kasur dan nyamannya selimut bulu angsa ga cuma elo woy" tapi sayang ih, kehalang seragam. jangan sampe nanti saya di gampar pake majalah colours yang ada di pesawat. katanya sih pake koran aja sakit apalagi pake majalah colours yang tebelnya nauzubillah..
ini nih penampakan inflight magz nya Garuda yang baru

kira kira percakapannya macam ini :

Tung Tung *pax call*
(Lampu yang nyala area ekonomi tapi saya lebih dekat, jadi saya mesti samperin ke belakang)

me : Ada yang bisa saya bantu ibu bapak *senyum tiga jari muka berseri seri*
Ibu : ini ada apa sih mbak, ke Yogya itu cuma 45 menit, kenapa ini sudah 2 jam tidak mendarat, ada masalah apa
Bapak : tau, jangan sampai kamu gadaikan nyawa saya di pesawat *Halaaah ini bahasanya*

*me cengar cengir berusaha jawab*
me : Iya bapak ibu, kita belum dapat izin mendarat, kan bandaranya masih dipakai AURI latihan, jadi kita masih holding.

ibu *jadi nyolot* : tapi kamu lihat jam kamu, bisa baca jam gak..ini sudah dua jam
bapak : iya, kalau mau lama, bikin pengumuman dong

*padahal captain belum lama bikin announcement holding, ah rasanya pengen narik kuping si ibu bapak dan bilang "ini kuping apa cantelan panci"*

me : kan tadi sudah di announce dua kali

bapak bapak kompor *ini bapak yang duduk diseberang mereka dan nyamber kaya bensin dikasih api* : yaudah landing aja di tempat lain, dan kasih kita kompensasi..kalau bensinnya abis di atas terus terjun bebas, mbak mau tanggung jawab

*Whattt???? situ pikir ini bus antar kota yang bisa landing dimana aja*

me : *senyum senyum*

bapak peri *ini bapak yang duduk di depannya tapi baik banget* : pak, ini garuda..ga mungkin bensinnya di isi pas, isinya pasti full tank..pilotnya juga pengalamannya banyak, ga mungkin sampe ga tau kalau bensinnya tinggal dikit..ini maskapai paling bagus lho pak, bukan pesawat sebelah yang kalau isi bensin pas pasan

me : *tambah senyum senyum* : iya bapak ibu, saya tau semua sudah capek dan cemas takut kita ga bisa mendarat, jadi percaya saya deh, pilot kami ga akan seceroboh itu..kalau urusan mendarat di bandara lain, bandara lain disekitaran sini pasti sudah tutup dari jam 10 tadi. kalau di landingkan di surabaya kan ga mungkin, kejauhan..jadi tunggu aja sebentar lagi. kokpit pasti lebih tau dan lebih punya perhitungan

mbak wartawan *ini agak tidak meyakinkan sih kalau dia wartawan* : saya ini wartawan lho, nanti saya tulis ya kelakuannya Garuda yang mencemaskan penumpang, lagian mana ada ceritanya pesawat penumpang kalah sama pesawat latihan, ini pasti ada apa apanya..

me *senyum mulai gemes* : silahkan saja ibu, tapi sebagai wartawan, kalau nulis ga boleh pake opini lho, nanti coba di cross check dulu sama ground staff dibawah keadaan di darat gimana..

Captain Announcement : Flight Attendant Landing Position *Alright, diselamatkan oleh bell :D*

sambil duduk mau landing, saya jadi mikir..orang orang Indonesia ini punya keinginan yang kecil untuk mendengar orang lain ngomong, dan langsung ngegass karena mereka merasa di rugikan.
kalau aja mereka mau meluangkan waktu sejenak untuk dengerin announcement, pasti mereka tau situasinya. bahkan buat saya, si wartawan *ngakunya* itu juga agak sembrono kalau ngomong, dia mau nulis apapun terserah dia, asal tidak membawa unsur opini ke dalam tulisannya yang bakalan di baca sama banyak orang, pernah ga ya dia mikir, kalau dia bisa si sue sama pihak manapun yang merasa di rugikan atas untsur opini yang masuk ke dalam tulisannya?

pernah gak ya, para penumpang ini mikir, mereka yang cuma duduk aja cape, gimana pramugarinya yang harus mondar mandir dan tetep senyum senyum padahal matanya udah pengen di ganjel korek api.
mereka mempermasalahkan karena nunggu di airport sebelum akhirnya boarding, pernah gak ya mereka mikir, pramugarinya udah berapa landing, udah bangun dari jam berapa dan mau lanjut kemana..
ini airliness full service lho, dimana pramugarinya harus dorong trolley, harus bagi makanan, harus angkat semua sisa makanan, harus bersihin toilet dan harus memastikan penumpangnya nyaman..ga cuma duduk duduk ngebully junior, ga cuma baca komik dan ngegosip during flight..

well hey sekali lagi semua penumpang selalu berlindung di balik kalimat "saya bayar, saya pelanggan dan saya harusnya jadi raja di flight ini" 
anda bayar? Ya
anda pelanggan? Ya
anda Raja? hmm... ini yang saya harus pikir pikir, karena saya yakin semua airliness tidak akan melakukan kecerobohan dan menurunkan level safety dan service cuma buat menyenangkan pelanggannya...

percaya deh, penumpang milih naik garuda karena kepercayaan mereka akan semua level service dan safety yang kita punya...

Safe Flight Happy Landing, Every body


Selasa, 28 Mei 2013

me vs pax jilid 2

Ingetkan saya pernah nulis me vs pax soal kelakuan ajaib penumpang saya..
Nah kali ini ada lagi...agak menjengkelkan sih, kalau saya ga pake seragam rasanya pengen saya keluarin deh ibu ini dari pesawat..


Boarding process :
Ibu2 dng 1 anak : kakak, belajar yang bener ya kalo bodoh ntar jadi kaya gitu..*sambil nunjuk saya*

Me : *balik badan* *menatap tajam* ibu maaf ngomong apa...kerjaan saya ga se bodoh yg ibu pikirin ya..

Ibu : *terdiam*

Kadang saya suka ga habis pikir, bisa ya orang sepicik itu..menggap remeh kerjaan saya..
Mungkin keliatannya kerjaan ini enteng ga pake otak..ga cuma ibu ini ko yang mikir kaya gitu banyak orang diluar sana yang berpikir sama..
Tapi ternyata banyak jebakan batman lho disini...

jangan pikir ketemu penumpang itu ga perlu pake strategi, ga perlu pake pengunaan  bahasa yang baik..
Jadi pramugari juga harus punya memori yang kuat dan kemampuan mengendalikan diri..kebayang nggak dalam 1 hari kita bs ketemu 500-600 orang di dalam pesawat..berarti ada 600 kepentingan, ada 600 keinginan dan ada 600 harapan...
Semuanya mesti keakomodir...kebayang nggak nahan emosi kl penumpangnya rese..mau marah tp mesti tetep senyum..
Ga salah tp harus minta maaf..
Bener tp hrs merendah..
Dan ini ga gampang..
Terus make otaknya dmana?
Dibagian safety tentu saja..
Airliness yang baik pasti membayar mahal pramugarinya supaya mereka bisa melakukan seluruh proses safety di dalam pesawat..
Menjalankan prosedur critical 11 dan tentu saja merasa bertanggung jawab atas keselamatan penumpangnya..
Jadi jangan berani2nya ngeremehin kerjaan ini...

Senin, 25 Maret 2013

me Vs Pax

share ah beberapa hal yang selalu bikin saya ketawa kalau saya terbang

me = saya
pax = penumpang

1. koran mana koran

me : selamat pagi bapak selamat datang, nomor berapa duduknya
pax : koran mana koran..
me : ???? *kan nanya nomor berapa,ga ada nomor koran di pesawat ini*

2. Makanan & minuman
*saat serving*

me : siang bapak ibu, menu makanan hari ini ada kentang dengan ayam atau mie dengan daging
pax : saya nasi aja mbak
me : *lari ke galley ambil ice breaker buat ngorek kuping* ga ada pak, kentang ayam atau mie daging saja
pax : yawdah mie ayam
me : *narik napas dalam* ga ada juga pak,mie dengan daging
pax : oh bilang dong dari tadi
me : minumnya apa mbak. jusnya ada jeruk jambu apel
pax : jus sirsak aja mbak
me : *mentok mentokin kepala ke trolley*

p.s : dear pax, please deh dengerin kalau pramugarinya ngomong apa..jangan bikin diri anda sendiri malu

3. kok kursinya pindah

*ada pax berdiri celingak celinguk lihat kursinya diisi orang*

me : bapak, boleh saya lihat boarding passnya *merefer ke penumpang dengan kursi yang maksud*
pax : *nyodorin boarding pass*
me : bapak salah duduk pak, bapak di A bukan di F
pax : hah,ko bisa disini jadi F kemarin disini A ko *sambil berdiri pindah*

p.s : ya kali paaaak, kursi di pesawat penomorannya ga standar...

4. laptop saya jangan di geser
me : *beberes luggage bins biar muat banyak
pax : mbak, laptop saya jangan digeser2 itu mahal harganya
me : *nengok* iya pak, tenang aja ini saya geser biar ga ketimpa barang lain
pax : jangan diapa2in mbak
me : *naro lagi ke posisi semula* *ngeloyor pergi*

datang pax lain yang naro kopernya asal, ketimpalah si laptop
me : *ngecek kabin*
pax : mbak, itu laptop saya ketimpa koper, geserin dong ntar rusak
me : (-__-)"

Selasa, 12 Februari 2013

barang anda bukan barang saya

tiap hari saya terbang, tiap hari juga saya ngeluh soal barang barang yang dibawa ke pesawat sama penumpang juga argumen mereka soal barang yang harus di taruh dibagasi atas (luggage bins)
menurut aturan jelasnya sih, barang yang bisa dibawa ke kabin itu cuma satu barang dengan ukuran yang sudah tersedia.. hayooo siapa yang pernah pake luggage bar scalling yang ada di bandara buat ngukur besar bagasinya yang bisa masuk ke dalam kabin?
jawabannya sudah pasti ga ada.
kebiasaan warga negara Indonesia tercinta saya adalah ga peduli aturan yang ada, yang penting barang bawaannya semua kebawa di atas kabin ga peduli orang lain tapi marah marah kalau dia sendiri yang ga dapet tempat di atas.
padahal ya sudah dapat free bagasi 20kg lho, sayang kan kalau ga dipake?
lebih sayang lagi kalau akhirnya harus bawa barang berat naik tangga kalau pesawat parkir di tempat yang tidak dilengkapi dengan garbarata.

nah satu lagi yang paling saya ga suka dan kadang saya selalu berusaha menghindar adalah kalau ada orang yang bawa barang berat ke pesawat tapi ga mau ngangkat sendiri barangnya dengan alasan ga sampe. kalau lagi jahat sih mulutnya suka pengen bilang "bu,kalau udah tau tinggi semekot alias semeter kotor tuh jagan deh bawa bawa barang gede yang akhirnya bikin susah orang lain" cuma ga mungkinlah pramugari bertaraf internasional ngomong gitu ke penumpnag..
ada juga kadang yang bilang "ini enteng ko" buuuu...kalau enteng, kenapa ga diangkat sendiri.
barang yang dibawa ke atas kabin adalah tanggung jawab penumpang masing masing, tugas kami adalah membantu anda mencari tempat yang bisa dipakai untuk menaruh barang, antara di atas kepala anda atau yang dikenal dengan luggage bins atau dikolong kaki anda atau dengan sebutan luggage bars.
semuanya merupakan tempat yang aman untuk menaruh barang bawaan anda.

jadi mulai deh pakai fasilitas gratisan yang ada, saya pribadi kalau travelling lebih suka ga bawa apa apa ke kabin kalau terbang. mending pakai fasilitas 20kg yang ada (untuk beberapa kartu frequent flyer biasanya dapat tambahan 5-20kg) jadi saya tetep cantik melangkah di kabin pesawat dengan tas tangan dan sepatu high heels manolo saya :D

sooo..be a smart travelers guys :)